Rabu, 03 Januari 2018

PERSEPSI SOSIAL

PENGERTIAN PERSEPSI SOSIAL
Dalam psikologi, persepsi secara umum merupakan proses perolehan, penafsiran, pemilihan dan pengaturan informasi indrawi. Persepsi sosial dapat diartikan sebagai perolehan, penafsian, pemilihan dan pengaturan informasi indrawi tentang orang lain. Apa yang diperoleh, ditafsirkan, dipilih, dan di atur adalah informasi indrawi dari lingkungan sosial serta yang menjadi fokusnya adalah orang lain.
Secara umum persepsi sosialadalah aktivias memersepsikan orang lain dan apa yang membuat mereka dikenali. Persepsi sosial adalah studi terhadap bagaimana orang membentuk kesan dan membuat kesimpulan tentang orang lain (teiford, 2008).

TINGKAH LAKU DAN KOMUNIKASI NONVERBAL
Mengenali tingkah laku nonverbal (Patterson 1983) sebagai berikut :
1.      Tingkah laku nonverbal menyediakan informasi tentang perasaan dan niat secara ajek. Contohnya, emosi sedih yang dialami seseorang dapat dikenali dari ekspresi wajahnya meskipun orang itu menyatakan ia tidak sedang sedih.
2.      Tingkah laku nonverbal dapat digunakan untuk mengatur dan mengelolah interaksi. Contonya, dalam kegiatan diskusi, ekkspresi wajah.
3.      Tingkah laku nonverbal dapat digunakan untuk mengungkapkan keintiman, misalnya sentuhan, rangkulan dan tatapan mata.
Dari penampilan fisik tersebut, kita mengenali tanda tanda nonverbal untuk mencari tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Aktivitas saling mengenali melalui  tingkah laku noverbal itu disebut komunikasih nonverbal. Komunikasih nonverbal didefinisikan sebagai cara orang berkomunikasi tanpa kata –kata, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Dalam komunikasih nonverbal, kita mencermati tekan suara, sentuhan, gestur ekspresi wajah, dan tanda tanda nonverbal lainnya.

Saluran Komunikasi Nonverbal
Pada bagian-bagian tubuh, aktivitas nonverbal berlangsung dengan memanfaatkan fungsi-fungsi bagian tubuh itu masing-masing. Aktivitas-aktivitas nonverbal pada bagian tubuh itu disebut saluran-saluran nonverbal karena semuanya menyalurkan tanda-tanda nonverbal yang dapat memberi petunjuk tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan orang. Penelitian tentang komunikasi nonverbal menemukan ada lima saluran komunikasi nonverbal, ekspresi wajah, kontak mata, gerakana badan, postur, dan sentuhan.

Ekspresi Wajah sebagai Tanda dari Emosi Orang Lain
Penelitian-penelitian tentang hubungan antara ekspresi wajah dengan emosi menunjukkan bahwa ada lima emosi dasar yang secara jelas diwakili oleh ekspresi wajah; marah, takut, bahagia, kaget, dan jijik. Ekspresi wajah, selain mengungkapkan emosi secara sendiri-sendiri, juga dapat mengungkapkan kombinasi emosi, seperti marah bercampur kaget dan sedih bercampur takut.

Kontak Mata sebagai Tanda Nonverbal
Hubungan antara kontak mata dan tatapan sebagai tanda-tanda nonverbal dengan keadaan emosional. Kontak mata menyediakan informasi sosial dan emosional/ orang secara sadar atau tidak sadar sering melakukan aktifitas yang melibatkan kontak mata. Pertemuan dua mata membangkitkan emosi kuat. Di beberapa bagian dunia, khususnya di Asia kontak mata dapat menibulkan kesalahpahaman antara orang dari suku atau kebangsaan yang berbeda. Mempertahankan kontak mata dengan supervisor di perusahaan atau dengan orang yang lebih tua dapat membuat kita dianggap kasar, tidak sopan, dan agresif. Hal ini berbeda dengan masyarakat Barat.

Gerak-gerik, Gerakan badan, dan Postur.
Posisi tubuh berubah, gerakan berubah baik dari bentuk maupun kecepatannya. Gerakan badan mencerminkan keadaan emosionalnya. Sebagai salah satu saluran komunikasi nonverbal, gerakan badan memberikan kita tanda-tanda nonverbal sehingga ketika dapat mengenali dan mengerti keadaan emosional orang lain. Perpaduan posisi tubuh, gerakan tubuh dan postur biasa disebut bahasa tubuh (body language)

Sentuhan
Sentuhan orang lain pada kita, dapat membantu memahami apa yang di rasakan orang lain terhadap kita. Pemahaman terhadap apa yang hendak di ungkapkan melalui sentuhan  bergantung pada beberapa factor yang terkait dengan; siapa yang menampilkan sentuhan, jenis kontak fisik, dan konteks yang ada ada saat sentuhan di tampilkan.

Komunikasi Nonverbal melalui Multi-saluran
Dalam interaksi sehari-hari, kita biasanya menerima informasi dari beragam saluran dalam waktu bersamaan. Archer dan Akert (1991) menunjukan bahwa orang mampu menafsirkan tanda-tanda yang ditampilkan melalui beragam saluran komunikasi nonverbal dengan cukup tepat, dengan memanfaatkan berbagai tanda meski ada perbedaan pada beberapa tipe orang. Misalnya orang yang ekstrovert lebih baik kemampuannya dari pada orang yang introvert.
           

DAFTAR PUSTAKA
 Tim Penulis Psikologi Universitas Indonesia. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika

GAYA KEPEMIMPINAN

1.    Pengertian Gaya Kepemimpinan
Menurut Flippo (dalam Sudaryono, 2014), gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang dirancang untuk memadukan kepentingan-kepentingan organisasi dan personalia guna mengejar beberapa sasaran.
Menurut Thoha, (2009) gaya kepemimpinan adalah norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.
Menurut Nawawi (dalam Sudaryono, 2014), gaya kepemimpinan adalah sebagai perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para anggota organisasi dan bawahanya.
Menurut Rivai, (2003), gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah,keterampilan, sifat, sikap, yang sering di terapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja bawahannya.
Menurut Thoha (dalam Sudaryono, 2014), gaya kepemimpinan adalah norma perilaku yang digunakan oleh sesseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang mereka lihat

2.      Karakteristik Gaya Kepemimpinan
Karakteristik gaya kepemimpinan menurut Sudaryono, (2014):
a.       Persepsi seorang pimpinan tentang peranannya selaku pimpinan
Adalah suatu proses penataan dan penerjemahan kesan-kesan seseorang tentang lingkungan dimana dia berada. Dimana suatu keadaan dapat diinterpretasikan sebagai kenyataan oleh seseorang berdasarkan persepsinya, meskipun kenyataan sebenarnya lain bentuk dan sifatnya. Cara pandang yang bersifat subjektif itu pasti mewarnai cara seseorang melihat peranannya selaku pimpinan baik yang menyangkut fungsi-fungsinya, hubungan nya dengan bawahan, dan bentuk maupun sikap serta intensitas keterlibatan para bawahanya dalam proses pengambilan keputusan.
b.      Nilai-nilai yang dianut
Adalah keyakinan dasar yang dalam diri seseorang tentang hal-hal yang sangat mempengaruhi cara bertindak dan perilaku orang yang bersangkutan. Nilai berkaitan dengan pandangan seseorang tentang yang baik dan buruk, yang benar dan apa yang salah. Pemimpin menganut nilai-nilai tertentu karena apa yang dia dengar, dilihat, dan dipraktekkan oleh berbagai pihak dengan siapa yang bersangkutan berinteraksi sejak kecil, seperti orang tua, guru dan teman-teman.
c.       Sikap dalam mengemudikan jalannya organisasi
Suatu bentuk pernyataan evaluative oleh seseorang atau kelompok orang atau suatu peristiwa. Sikap dapat bersifat positif tetapi dapat pula bersifat negatif.  Sikap seseorang sudah terbentuk dimasa kecilnya sebagai pengaruh dari orang tua, guru dan teman-temannya. Terbentuk karena meniru sikap orang-orang tertentu yang di hormati, dikagumi, bahkan mungkin di takutinya.

d.      Perilaku dalam memimpin

Cara seseorang berinteraksi dengan orang lain, dalam hal ini dalam kehidupan organisasional. Dimungkinkan memahami perilaku seseorang sedemikian rupa sehingga perilaku tertentu dapat di jelaskan dan diduga sebelumnya. 

DAFTAR PUSTAKA
Sudaryono, Dr. (2014).  Leadership. Jakarta: Lentera Ilmu Cendekia

Rivai, Veithal. (2008). Kepemimpinan dan perilaku Organisasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Thoha, Miftah. (2009). Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

DEPRESI

1.      Definisi Depresi

Radloff (1977) mendefinisikan depresi sebagai perasaan sedih yang terjadi pada seseorang dengan jangka waktu tertentu (beberapa hari). Ketika seseorang mengalami depresi, mereka akan merasa sangat sedih untuk waktu yang lama dan tidak dapat menyingkirkan perasaan tersebut. Individu tersebut juga mempunyai masalah dalam tidur, masalah dengan nafsu makan, merasa lelah, dan sulit untuk berkonsentrasi.
Depresi menurut Atkinson (1996) adalah respon seseorang mengenai permasalahan kehidupan hingga melampaui batasan stres. Depresi dapat juga disebut sebagai situasi stres yang berkepanjangan.
Menurut Kaplan (2010) pengertian depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri. Kaplan (2010) mengatakan bahwa depresi merupakan salah satu gangguan mood yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Mood adalah keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang, dan bukan afek, yaitu ekspresi dari isi emosional saat itu (Kaplan, 2010).
2.      Gejala-gejala Depresi
Pada bagian ini peneliti akan menjabarkan gejala-gejala dari depresi berdasarkan acuan DSM IV-TR sesuai dengan alat ukur yang digunakan (American Psychiatric Association/APA, 2000):
A.    Terdapat lima atau lebih gejala yang sama dalam 2 minggu, setidaknya satu gejala tentang mood depresi atau kehilangan minat.
1)      Merasa depresi (sedih, kosong, pesimis, menangis).
2)      Tidak memiliki ketertarikan atau minat dalam segala hal atau aktivitas.
3)      Berat turun dengan signifikan (tidak melakukan program diet yang disengaja) atau nafsu makan berubah.
4)      Insomnia (sulit untuk dapat tidur) atau hipersomnia (jam tidur diatas rata-rata).
5)      Agitasi psikomotor (gelisah) atau retardasi.
6)      Merasa lelah atau capek, kekurangan energi.
7)      Merasa tidak berharga, atau terlalu berlebihan, atau merasa bersalah.
8)      Kurang mampu berpikir atau berkonsentrasi, penuh keraguan.
9)      Berpikir berulang tentang kematian, berpikir tentang bunuh diri, atau merencanakan bunuh diri.
B.     Gejala-gejala ini tidak dapat ditemukan pada kriteria mixed episode.
C.     Gejala-gejala ini karena distress klinis yang signifikan atau penurunan sosial, pekerjaan, atau fungsi area penting lainnya.
D.    Gejala-gejala ini bukan karena efek fisiologis dari zat-zat berbahaya (seperti narkotika) atau kondisi medik yang umum (hypothyroidism).
E.     Gejala-gejala ini bukan karena rasa kehilangan; depresi mayor masih dapat didiagnosa jika gejalanya diikuti kehilangan orang yang dicintai selama lebih dari dua bulan atau karakteristik dari ditandai gangguan fungsional, merasa tidak bahagia, mempunyai ide untuk bunuh diri, gejala psikotik, maupun retardasi psikomotor.

3.      Faktor-faktor Penyebab Depresi
Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab depresi (Davidson, et al., 2008):
1.      Faktor Sosial
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, dimana individu melakukan hubungan timbal balik dengan individu lainnya, dan tidak akan bisa lepas dari pengaruh orang lain (Aristoteles, 384-322 SM). Berikut adalah faktor penyebab terjadinya depresi apabila rasa sosial pada individu tidak terpenuhi:
a.       Life Events (Peristiwa Kehidupan)
Dalam kehidupan terjadi peristiwa-peristiwa yang dapat memicu terjadinya depresi, diantaranya yaitu: kehilangan pekerjaan; persahabatan; pasangan hidup
b.      Interpersonal Difficulties (Kesulitan Berhubungan Interpersonal)
Individu tidak mungkin hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan dari orang lain, maka dari itu individu saling berinteraksi dan membangun hubungan interpersonal.
2.   Faktor Psikologis
a.      Neuroticism
Salah satu kepribadian yang cenderung untuk bereaksi negatif terhadap suatu peristiwa, dan diprediksi dapat menyebabkan depresi
b.                  Cognitive Theories
Dalam teori kognitif, pikiran dan kepercayaan negatif akan menjadi pemicu untuk terjadinya depresi. Pikiran pesimis dan sering mengkritisi diri sendiri pun dapat menyebabkan seseorang menjadi depresi.

DAFTAR PUSTAKA:
Radloff, L.S. (1977) THE CES-D SCALE : A SELF REPORT DEPRESSION SCALE FOR RESEARCH IN THE GENERAL POPULATION. Journal Of Apllied Psychological Measurement. Vol. 1 No. 3 Summer 1977 pp. 385-401


Kaplan, H.I, Sadock B.J., Grebb. J.A (2010) Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara

MOTIVASI BERPRESTASI

1.      Pengertian Motivasi Berprestasi
Menurut Atkinson & Raynor (1974, dalam Santrock, 2003), motivasi berprestasi adalah suatu motif untuk menyelesaikan sesuatu, untuk mencapai suatu standar kesuksesan, dan melakukan suatu usaha dengan tujuan untuk melakukan suatu kesuksesan. Seseorang yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi memiliki harapan untuk sukses yang lebih besar daripada ketakutan akan kegagalan. Serta tekun pada setiap usahanya ketika menghadapi tugas atau keadaan yang semakin sulit.
Menurut Keith & Nastron (1989, dalam Rumiani, 2006), mendefiniskan motivasi berprestasi sebagai dorongan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengatasi hambatan dalam mencapai tujuan, sehingga individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi menunjukkan usaha yang lebih besar dan ulet.
Menurut Hawadi (2001) motivasi berprestasi adalah daya penggerak dalam diri siswa untuk mencapai prestasi sesuai dengan yang ditetapkan oleh individu itu sendiri. Seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan menampilkan tingkah laku yang berbeda dengan orang yang memiliki motivasi berprestasi rendah.
2.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi
Harter (dalam Hawadi, 2001) mengungkapkan ada 3 hal yang mempengaruhi motivasi berprestasi pada diri seseorang:
1.      Kompetensi yang dimiliki individu
Semakin tinggi prestasi seseorang, maka semakin besar pula keyakinan terhadap kompetensi yang dimilikinya dan semakin besar pula mereka menyukai tantangan, penuh rasa ingin tahu, dan melibatkan diri dalam menguasai suatu ketrampilan.
2.      Afek dalam kegiatan belajar yang dilakukan
Jika individu merasa mampu dalam suatu mata pelajaran tertentu, maka ia akan menyenangi pelajaran itu. Selain itu, jika individu menyenangi tempat belajarnya, maka ia akan memiliki kecakapan yang tinggi dalam sebagian besar tugas yang diberikan, serta mempunyai hubungan yang baik dengan lingkungan tempat individu tersebut belajar.
3.      Persepsi tentang kontrol
Individu yang memiliki persepsi kontrol internal mempunyai harapan yang tinggi untuk berhasil dan terdorong untuk bekerja keras, mereka menyadari bahwa keberhasilan dan kegagalan amat tergantung pada usaha mereka sendiri.

Lebih jauh ditambahkan menurut McClelland (dalam Hawadi, 2001), ada beberapa elemen penting dalam motivasi berprestasi:
1.      Kebutuhan akan prestasi: menunjukan keinginan seseorang untuk mencapai suatu kesuksesan atau keunggulan dengan menetapkan suatu standar atau tujuan.
2.      Pengambilan tanggung jawab: menunjukkan kemampuan individu dalam bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan.
3.      Ketakutan akan kegagalan: menunjukkan kemampuan individu untuk dapat mengantisipasi kegagalan atau perasaan frustasi (putus asa).
4.      Kemampuan mengatasi kendala: menunjukkan usaha yang dilakukan oleh individu dalam mengatasi kendala yang datang dari luar maupun dari dalam diri, dalam usahanya mencapai prestasi.
5.      Kebutuhan akan umpan balik: menunjukkan individu yang memiliki motivasi berprestasi lebih menyukai pemberian umpan balik atas usaha yang dilakukannya.

DAFTAR PUSTAKA:
Hawadi, R. A. (2001). Psikologi perkembangan anak: Mengenal sifat, bakat, dan kemampuan anak. Jakarta: PT. Grasindo
Rumiani. (2006). PROKRASTINASI AKADEMIK DITINJAU DARI MOTIVASI BERPRESTASI DAN STRES MAHASISWA. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro 3(2). 37-48.
Santrock, J.W. (2003). Adolescence Perkembangan remaja. Jakarta: Erlangga.


KONSEP DIRI

1.      Pengertian Konsep diri
Konsep diri adalah sekumpulan keyakinan dan perasaan seseorang mengenai dirinya. Keyakinan tersebut bisa berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, penampilan fisik, dan sebagainya (Deaux dalam Sarwono 2009).
Menurut Monks (2004) berpendapat bahwa pembentukan konsep diri pada remaja sangat penting karena akan mempengaruhi kepribadian, tingkah laku, dan pemahaman terhadap dirinya sendiri. Sehingga pencarian identitas merupakan konflik utama yang dialami oleh remaja.
Menurut Hurlock (1996) konsep diri adalah penilaian remaja tentang diri sendiri. Yang terbagi berdasarkan beberapa sifat, yaitu:
1)      Konsep Diri Fisik
Gambaran remaja tentang penampilannya, dengan seksnya, arti penting tubuhnya dalam hubungannya dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan oleh tubuhnya dimata orang lain.
2)      Konsep Diri Psikis
Gambaran remaja tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan hubungan dengan orang lain.
3)      Konsep Diri Sosial
Gambaran remaja tentang hubungannya dengan orang lain, dengan teman sebaya, dengan keluarga, dan lain-lain.
4)      Konsep Diri Emosional
Gambaran remaja tentang emosi diri, seperti kemampuan menahan emosi, pemarah, sedih, atau riang-gembira, pendendam, pemaaf, dan lain-lain.
5)      Konsep Diri Aspirasi
Gambaran remaja tentang pendapat dan gagasan, kreativitas, dan cita-cita.
6)      Konsep Diri Prestasi
Gambaran remaja tentang kemajuan dan keberhasilan yang akan diraih, baik dalam masalah belajar Maupin kesuksesan hidup.
Calhoun dan Acocella (1990) membagi konsep diri ke dalam dua jenis yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif.
a)      Konsep Diri Positif
Merupakan konsep diri yang bersifat stabil dan bervariasi, serta menunjukkan adanya pengenalan diri dan penerimaan diri dengan sangat baik. Individu dengan konsep diri ini dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang bermacam-macam tentang dirinya sendiri, sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif serta dapat menerima dirinya apa adaya.
b)      Konsep Diri Negatif
Konsep ini terbagi menjadi dua tipe, yang pertama adalah pandangan individu yang tidak teratur, tidak memiliki kestabilan, dan keutuhan diri. Ketidakmampuan ini menyebabkan individu tidak mengetahui dengan benar siapa dirinya, kekuatan maupun kelemahannya, atau apa yang dihargai dalam kehidupannya.Tipe yang kedua adalah pandangan diri individu terlalu stabil dan teratur. Hal ini dapat terjadi karena individu dididik dengan cara yang keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari kebiasaan atau citra dirinya yang telah terbentuk tersebut, dan beranggapan bahwa hal tersebut adalah cara hidup yang paling tepat.
3.      Dimensi Konsep Diri
Fitts (dalam Agustiani, 2006) membagi konsep diri ke dalam dua dimensi pokok, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal. Berikut dijelaskan secara rincii satu persatu.
1.      Dimensi Internal adalah bila seorang individu melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia batinnya sendiri atau dunia dalam dirinya sendiri terhadap identitas dirinya, perilaku dirinya, dan penerimaan dirinya. Kerangka acuan internal atau yang disebut juga dimensi internal ini oleh Fitts dibedakan atas tiga bentuk, yang terdiri dari:
a)      Diri sebagai obyek/identitas (identity self).
Identitas diri ini merupakan aspek konsep diri yang paling mendasar. Konsep ini mengacu pada pertanyaan “siapakah saya ?”, dimana di dalamnya tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri oleh individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya.
b)      Diri sebagai pelaku (behavioral self).
Diri pelaku merupakan persepsi seorang individu tentang tingkah lakunya. Diri pelaku berisikan segala kesadaran mengenai “apa yang dilakukan oleh diri”.
c)      Diri sebagai pengamat dan penilai (judging self)
Manusia cenderung menilai sejauh mana hal-hal yang dipersepsikan memuaskan bagi dirinya. Interaksi antara diri identitas, diri pelaku dan integrasi dalam keseluruhan konsep diri meliputi bagian diri yang ketiga yaitu diri sebagai penilai.
2.      Dimensi Eksternal adalah individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain diluar dirinya. Yang terdiri dari:
a)      Diri fisik (physical self)
Merupakan persepsi dan perasaan seseorang terhadap keadaan fisik, kesehatan, keterampilan, penampilan diri, seksualitas dan gerak motorik.
b)      Diri moral-etik (moral-ethical self)
Merupakan persepsi seseorang tentang dirinya ditinjau dari standar pertimbangan nilai-nilai etis dan moral.
c)      Diri personal (personal self)
Merupakan perasaan individu terhadap nilai-nilai pribadi terlepas dari keadaan fisik dan hubungan dengan orang lain dan sejauh mana ia merasa kuat sebagai pribadi. Misalnya perasaan diri sebagai orang gembira, orang tenang dan santai atau seorang pembenci.
d)     Diri keluarga (family self)
Merupakan perasaan dan harga diri seseorang sebagai anggota keluarga dan di tengah-tengah temanteman dekat. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh perasaan seseorang terhadap dirinya sebagai anggota keluarga dan terhadap peran maupun fungsi yang dijalankannya selaku anggota keluarga.
e)      Diri sosial (social self)
Merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan lebih luas.



DAFTAR PUSTAKA:
Monks, dkk. (2004). Psikologi perkembangan pengantar dalam berbagai bagaiannya. Yogyakarta: UGM Press.
Sarwono, S.W & Meinarno, E.A. (2009). Psikologi sosial. Jakarta: Salemba Humanika.