Rabu, 03 Januari 2018

GAYA KEPEMIMPINAN

1.    Pengertian Gaya Kepemimpinan
Menurut Flippo (dalam Sudaryono, 2014), gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang dirancang untuk memadukan kepentingan-kepentingan organisasi dan personalia guna mengejar beberapa sasaran.
Menurut Thoha, (2009) gaya kepemimpinan adalah norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.
Menurut Nawawi (dalam Sudaryono, 2014), gaya kepemimpinan adalah sebagai perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para anggota organisasi dan bawahanya.
Menurut Rivai, (2003), gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah,keterampilan, sifat, sikap, yang sering di terapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja bawahannya.
Menurut Thoha (dalam Sudaryono, 2014), gaya kepemimpinan adalah norma perilaku yang digunakan oleh sesseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang mereka lihat

2.      Karakteristik Gaya Kepemimpinan
Karakteristik gaya kepemimpinan menurut Sudaryono, (2014):
a.       Persepsi seorang pimpinan tentang peranannya selaku pimpinan
Adalah suatu proses penataan dan penerjemahan kesan-kesan seseorang tentang lingkungan dimana dia berada. Dimana suatu keadaan dapat diinterpretasikan sebagai kenyataan oleh seseorang berdasarkan persepsinya, meskipun kenyataan sebenarnya lain bentuk dan sifatnya. Cara pandang yang bersifat subjektif itu pasti mewarnai cara seseorang melihat peranannya selaku pimpinan baik yang menyangkut fungsi-fungsinya, hubungan nya dengan bawahan, dan bentuk maupun sikap serta intensitas keterlibatan para bawahanya dalam proses pengambilan keputusan.
b.      Nilai-nilai yang dianut
Adalah keyakinan dasar yang dalam diri seseorang tentang hal-hal yang sangat mempengaruhi cara bertindak dan perilaku orang yang bersangkutan. Nilai berkaitan dengan pandangan seseorang tentang yang baik dan buruk, yang benar dan apa yang salah. Pemimpin menganut nilai-nilai tertentu karena apa yang dia dengar, dilihat, dan dipraktekkan oleh berbagai pihak dengan siapa yang bersangkutan berinteraksi sejak kecil, seperti orang tua, guru dan teman-teman.
c.       Sikap dalam mengemudikan jalannya organisasi
Suatu bentuk pernyataan evaluative oleh seseorang atau kelompok orang atau suatu peristiwa. Sikap dapat bersifat positif tetapi dapat pula bersifat negatif.  Sikap seseorang sudah terbentuk dimasa kecilnya sebagai pengaruh dari orang tua, guru dan teman-temannya. Terbentuk karena meniru sikap orang-orang tertentu yang di hormati, dikagumi, bahkan mungkin di takutinya.

d.      Perilaku dalam memimpin

Cara seseorang berinteraksi dengan orang lain, dalam hal ini dalam kehidupan organisasional. Dimungkinkan memahami perilaku seseorang sedemikian rupa sehingga perilaku tertentu dapat di jelaskan dan diduga sebelumnya. 

DAFTAR PUSTAKA
Sudaryono, Dr. (2014).  Leadership. Jakarta: Lentera Ilmu Cendekia

Rivai, Veithal. (2008). Kepemimpinan dan perilaku Organisasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Thoha, Miftah. (2009). Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

DEPRESI

1.      Definisi Depresi

Radloff (1977) mendefinisikan depresi sebagai perasaan sedih yang terjadi pada seseorang dengan jangka waktu tertentu (beberapa hari). Ketika seseorang mengalami depresi, mereka akan merasa sangat sedih untuk waktu yang lama dan tidak dapat menyingkirkan perasaan tersebut. Individu tersebut juga mempunyai masalah dalam tidur, masalah dengan nafsu makan, merasa lelah, dan sulit untuk berkonsentrasi.
Depresi menurut Atkinson (1996) adalah respon seseorang mengenai permasalahan kehidupan hingga melampaui batasan stres. Depresi dapat juga disebut sebagai situasi stres yang berkepanjangan.
Menurut Kaplan (2010) pengertian depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri. Kaplan (2010) mengatakan bahwa depresi merupakan salah satu gangguan mood yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Mood adalah keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang, dan bukan afek, yaitu ekspresi dari isi emosional saat itu (Kaplan, 2010).
2.      Gejala-gejala Depresi
Pada bagian ini peneliti akan menjabarkan gejala-gejala dari depresi berdasarkan acuan DSM IV-TR sesuai dengan alat ukur yang digunakan (American Psychiatric Association/APA, 2000):
A.    Terdapat lima atau lebih gejala yang sama dalam 2 minggu, setidaknya satu gejala tentang mood depresi atau kehilangan minat.
1)      Merasa depresi (sedih, kosong, pesimis, menangis).
2)      Tidak memiliki ketertarikan atau minat dalam segala hal atau aktivitas.
3)      Berat turun dengan signifikan (tidak melakukan program diet yang disengaja) atau nafsu makan berubah.
4)      Insomnia (sulit untuk dapat tidur) atau hipersomnia (jam tidur diatas rata-rata).
5)      Agitasi psikomotor (gelisah) atau retardasi.
6)      Merasa lelah atau capek, kekurangan energi.
7)      Merasa tidak berharga, atau terlalu berlebihan, atau merasa bersalah.
8)      Kurang mampu berpikir atau berkonsentrasi, penuh keraguan.
9)      Berpikir berulang tentang kematian, berpikir tentang bunuh diri, atau merencanakan bunuh diri.
B.     Gejala-gejala ini tidak dapat ditemukan pada kriteria mixed episode.
C.     Gejala-gejala ini karena distress klinis yang signifikan atau penurunan sosial, pekerjaan, atau fungsi area penting lainnya.
D.    Gejala-gejala ini bukan karena efek fisiologis dari zat-zat berbahaya (seperti narkotika) atau kondisi medik yang umum (hypothyroidism).
E.     Gejala-gejala ini bukan karena rasa kehilangan; depresi mayor masih dapat didiagnosa jika gejalanya diikuti kehilangan orang yang dicintai selama lebih dari dua bulan atau karakteristik dari ditandai gangguan fungsional, merasa tidak bahagia, mempunyai ide untuk bunuh diri, gejala psikotik, maupun retardasi psikomotor.

3.      Faktor-faktor Penyebab Depresi
Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab depresi (Davidson, et al., 2008):
1.      Faktor Sosial
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, dimana individu melakukan hubungan timbal balik dengan individu lainnya, dan tidak akan bisa lepas dari pengaruh orang lain (Aristoteles, 384-322 SM). Berikut adalah faktor penyebab terjadinya depresi apabila rasa sosial pada individu tidak terpenuhi:
a.       Life Events (Peristiwa Kehidupan)
Dalam kehidupan terjadi peristiwa-peristiwa yang dapat memicu terjadinya depresi, diantaranya yaitu: kehilangan pekerjaan; persahabatan; pasangan hidup
b.      Interpersonal Difficulties (Kesulitan Berhubungan Interpersonal)
Individu tidak mungkin hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan dari orang lain, maka dari itu individu saling berinteraksi dan membangun hubungan interpersonal.
2.   Faktor Psikologis
a.      Neuroticism
Salah satu kepribadian yang cenderung untuk bereaksi negatif terhadap suatu peristiwa, dan diprediksi dapat menyebabkan depresi
b.                  Cognitive Theories
Dalam teori kognitif, pikiran dan kepercayaan negatif akan menjadi pemicu untuk terjadinya depresi. Pikiran pesimis dan sering mengkritisi diri sendiri pun dapat menyebabkan seseorang menjadi depresi.

DAFTAR PUSTAKA:
Radloff, L.S. (1977) THE CES-D SCALE : A SELF REPORT DEPRESSION SCALE FOR RESEARCH IN THE GENERAL POPULATION. Journal Of Apllied Psychological Measurement. Vol. 1 No. 3 Summer 1977 pp. 385-401


Kaplan, H.I, Sadock B.J., Grebb. J.A (2010) Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara

MOTIVASI BERPRESTASI

1.      Pengertian Motivasi Berprestasi
Menurut Atkinson & Raynor (1974, dalam Santrock, 2003), motivasi berprestasi adalah suatu motif untuk menyelesaikan sesuatu, untuk mencapai suatu standar kesuksesan, dan melakukan suatu usaha dengan tujuan untuk melakukan suatu kesuksesan. Seseorang yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi memiliki harapan untuk sukses yang lebih besar daripada ketakutan akan kegagalan. Serta tekun pada setiap usahanya ketika menghadapi tugas atau keadaan yang semakin sulit.
Menurut Keith & Nastron (1989, dalam Rumiani, 2006), mendefiniskan motivasi berprestasi sebagai dorongan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengatasi hambatan dalam mencapai tujuan, sehingga individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi menunjukkan usaha yang lebih besar dan ulet.
Menurut Hawadi (2001) motivasi berprestasi adalah daya penggerak dalam diri siswa untuk mencapai prestasi sesuai dengan yang ditetapkan oleh individu itu sendiri. Seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan menampilkan tingkah laku yang berbeda dengan orang yang memiliki motivasi berprestasi rendah.
2.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi
Harter (dalam Hawadi, 2001) mengungkapkan ada 3 hal yang mempengaruhi motivasi berprestasi pada diri seseorang:
1.      Kompetensi yang dimiliki individu
Semakin tinggi prestasi seseorang, maka semakin besar pula keyakinan terhadap kompetensi yang dimilikinya dan semakin besar pula mereka menyukai tantangan, penuh rasa ingin tahu, dan melibatkan diri dalam menguasai suatu ketrampilan.
2.      Afek dalam kegiatan belajar yang dilakukan
Jika individu merasa mampu dalam suatu mata pelajaran tertentu, maka ia akan menyenangi pelajaran itu. Selain itu, jika individu menyenangi tempat belajarnya, maka ia akan memiliki kecakapan yang tinggi dalam sebagian besar tugas yang diberikan, serta mempunyai hubungan yang baik dengan lingkungan tempat individu tersebut belajar.
3.      Persepsi tentang kontrol
Individu yang memiliki persepsi kontrol internal mempunyai harapan yang tinggi untuk berhasil dan terdorong untuk bekerja keras, mereka menyadari bahwa keberhasilan dan kegagalan amat tergantung pada usaha mereka sendiri.

Lebih jauh ditambahkan menurut McClelland (dalam Hawadi, 2001), ada beberapa elemen penting dalam motivasi berprestasi:
1.      Kebutuhan akan prestasi: menunjukan keinginan seseorang untuk mencapai suatu kesuksesan atau keunggulan dengan menetapkan suatu standar atau tujuan.
2.      Pengambilan tanggung jawab: menunjukkan kemampuan individu dalam bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan.
3.      Ketakutan akan kegagalan: menunjukkan kemampuan individu untuk dapat mengantisipasi kegagalan atau perasaan frustasi (putus asa).
4.      Kemampuan mengatasi kendala: menunjukkan usaha yang dilakukan oleh individu dalam mengatasi kendala yang datang dari luar maupun dari dalam diri, dalam usahanya mencapai prestasi.
5.      Kebutuhan akan umpan balik: menunjukkan individu yang memiliki motivasi berprestasi lebih menyukai pemberian umpan balik atas usaha yang dilakukannya.

DAFTAR PUSTAKA:
Hawadi, R. A. (2001). Psikologi perkembangan anak: Mengenal sifat, bakat, dan kemampuan anak. Jakarta: PT. Grasindo
Rumiani. (2006). PROKRASTINASI AKADEMIK DITINJAU DARI MOTIVASI BERPRESTASI DAN STRES MAHASISWA. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro 3(2). 37-48.
Santrock, J.W. (2003). Adolescence Perkembangan remaja. Jakarta: Erlangga.


KONSEP DIRI

1.      Pengertian Konsep diri
Konsep diri adalah sekumpulan keyakinan dan perasaan seseorang mengenai dirinya. Keyakinan tersebut bisa berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, penampilan fisik, dan sebagainya (Deaux dalam Sarwono 2009).
Menurut Monks (2004) berpendapat bahwa pembentukan konsep diri pada remaja sangat penting karena akan mempengaruhi kepribadian, tingkah laku, dan pemahaman terhadap dirinya sendiri. Sehingga pencarian identitas merupakan konflik utama yang dialami oleh remaja.
Menurut Hurlock (1996) konsep diri adalah penilaian remaja tentang diri sendiri. Yang terbagi berdasarkan beberapa sifat, yaitu:
1)      Konsep Diri Fisik
Gambaran remaja tentang penampilannya, dengan seksnya, arti penting tubuhnya dalam hubungannya dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan oleh tubuhnya dimata orang lain.
2)      Konsep Diri Psikis
Gambaran remaja tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan hubungan dengan orang lain.
3)      Konsep Diri Sosial
Gambaran remaja tentang hubungannya dengan orang lain, dengan teman sebaya, dengan keluarga, dan lain-lain.
4)      Konsep Diri Emosional
Gambaran remaja tentang emosi diri, seperti kemampuan menahan emosi, pemarah, sedih, atau riang-gembira, pendendam, pemaaf, dan lain-lain.
5)      Konsep Diri Aspirasi
Gambaran remaja tentang pendapat dan gagasan, kreativitas, dan cita-cita.
6)      Konsep Diri Prestasi
Gambaran remaja tentang kemajuan dan keberhasilan yang akan diraih, baik dalam masalah belajar Maupin kesuksesan hidup.
Calhoun dan Acocella (1990) membagi konsep diri ke dalam dua jenis yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif.
a)      Konsep Diri Positif
Merupakan konsep diri yang bersifat stabil dan bervariasi, serta menunjukkan adanya pengenalan diri dan penerimaan diri dengan sangat baik. Individu dengan konsep diri ini dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang bermacam-macam tentang dirinya sendiri, sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif serta dapat menerima dirinya apa adaya.
b)      Konsep Diri Negatif
Konsep ini terbagi menjadi dua tipe, yang pertama adalah pandangan individu yang tidak teratur, tidak memiliki kestabilan, dan keutuhan diri. Ketidakmampuan ini menyebabkan individu tidak mengetahui dengan benar siapa dirinya, kekuatan maupun kelemahannya, atau apa yang dihargai dalam kehidupannya.Tipe yang kedua adalah pandangan diri individu terlalu stabil dan teratur. Hal ini dapat terjadi karena individu dididik dengan cara yang keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari kebiasaan atau citra dirinya yang telah terbentuk tersebut, dan beranggapan bahwa hal tersebut adalah cara hidup yang paling tepat.
3.      Dimensi Konsep Diri
Fitts (dalam Agustiani, 2006) membagi konsep diri ke dalam dua dimensi pokok, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal. Berikut dijelaskan secara rincii satu persatu.
1.      Dimensi Internal adalah bila seorang individu melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia batinnya sendiri atau dunia dalam dirinya sendiri terhadap identitas dirinya, perilaku dirinya, dan penerimaan dirinya. Kerangka acuan internal atau yang disebut juga dimensi internal ini oleh Fitts dibedakan atas tiga bentuk, yang terdiri dari:
a)      Diri sebagai obyek/identitas (identity self).
Identitas diri ini merupakan aspek konsep diri yang paling mendasar. Konsep ini mengacu pada pertanyaan “siapakah saya ?”, dimana di dalamnya tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri oleh individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya.
b)      Diri sebagai pelaku (behavioral self).
Diri pelaku merupakan persepsi seorang individu tentang tingkah lakunya. Diri pelaku berisikan segala kesadaran mengenai “apa yang dilakukan oleh diri”.
c)      Diri sebagai pengamat dan penilai (judging self)
Manusia cenderung menilai sejauh mana hal-hal yang dipersepsikan memuaskan bagi dirinya. Interaksi antara diri identitas, diri pelaku dan integrasi dalam keseluruhan konsep diri meliputi bagian diri yang ketiga yaitu diri sebagai penilai.
2.      Dimensi Eksternal adalah individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain diluar dirinya. Yang terdiri dari:
a)      Diri fisik (physical self)
Merupakan persepsi dan perasaan seseorang terhadap keadaan fisik, kesehatan, keterampilan, penampilan diri, seksualitas dan gerak motorik.
b)      Diri moral-etik (moral-ethical self)
Merupakan persepsi seseorang tentang dirinya ditinjau dari standar pertimbangan nilai-nilai etis dan moral.
c)      Diri personal (personal self)
Merupakan perasaan individu terhadap nilai-nilai pribadi terlepas dari keadaan fisik dan hubungan dengan orang lain dan sejauh mana ia merasa kuat sebagai pribadi. Misalnya perasaan diri sebagai orang gembira, orang tenang dan santai atau seorang pembenci.
d)     Diri keluarga (family self)
Merupakan perasaan dan harga diri seseorang sebagai anggota keluarga dan di tengah-tengah temanteman dekat. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh perasaan seseorang terhadap dirinya sebagai anggota keluarga dan terhadap peran maupun fungsi yang dijalankannya selaku anggota keluarga.
e)      Diri sosial (social self)
Merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan lebih luas.



DAFTAR PUSTAKA:
Monks, dkk. (2004). Psikologi perkembangan pengantar dalam berbagai bagaiannya. Yogyakarta: UGM Press.
Sarwono, S.W & Meinarno, E.A. (2009). Psikologi sosial. Jakarta: Salemba Humanika.



Jumat, 13 Oktober 2017

PENGERTIAN SISTEM INFROMASI PSIKOLOGI

Sistem Informasi Psikologi adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian. 
Sistem Informasi Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara ilmu psikologi dengan sistem informasi dimana di dalamnya terdapat kumpulan elemen-elemen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu dari data yang telah diproses menjadi bentuk yang memiliki arti bagi penerima dan mempunyai nilai yang nyata dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan dalam kaitannya dengan penggunaan komputer dan aplikasinya dalam bidang psikologi
Sistem Informasi Psikologi adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian.
Sistem Informasi Psikologi adalah seperangkat elemen-elemen  yang membentuk prosedur-prosedur psikologis yang mempelajari hubungan antara perilaku dan juga proses mental manusia yang bertujuan untuk memberi pemahaman kontrol yang lebih baik terhadap perilaku organisme secara keseuruhan dan juga untuk menyelesaikan suatu tujuan tertentu baik saat ini atau mendatang.
          Sistem Informasi Psikologi adalah suatu bidang psikologi yang mempelajari suatu koordinasi sistem informasi pada diri manusia yang mempengaruhi perilaku manusia sehari – hari serta berkaitan dengan sistem kognitif manusia dalam mengintergritas (sistem) berbagai informasi kemudian diolah sehingga menjadi sebuah kesatuan informasi.
Sistem Informasi Psikologi merupakan suatu kumpulan komponen fisik maupun non-fisik yang berupa data yang diproses dalam jumlah muatan besar yang mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan psikologis.


REFERENCE:





JENIS-JENIS SISTEM DAN JENIS JENIS SISTEM INFROMASI

JENIS-JENIS SISTEM:
1.      SISTEM DISTRIBUSI 
adalah sebuah koleksi komputer independen yang terlihat oleh pengguna sistem sebagai satu komputer. Atau komputer yang digunakan secara bersamaan dilakukan oleh komputer-komputer terpisah yang terhubung dalam satu jaringan komputer.

2.      SISTEM PARALEL 
adalah salah satu teknik melakukan komputasi secara bersamaan dengan memanfaatkan beberapa komputer independen secara bersamaan. Untuk melakukan berbagai jenis komputasi paralel diperlukan infrastruktur mesin paralel yang terdiri dari banyak komputer yang dihubungkan dengan jaringan dan mampu bekerja secara paralel untuk menyelesaikan satu masalah. Pemrograman Paralel sendiri adalah teknik pemrograman komputer yang memungkinkan eksekusi perintah/operasi secara bersamaan.

3.       SISTEM EMBEDDED
merupakan sebuah sistem rangkaian elektronikdigital yang merupakan bagian dari sebuah sistem yang lebih besar, yang biasanya bukan berupa sistem elektronik. Embedded Systems atau Sistem Tertanam merupakan suatu sistem komputer yang dirancang untuk tujuan khusus melakukan satu atau banyak tugas dalam komputasi yang real time.

4.      SISTEM HANDHELD.
Sekitar tahun 1990-an dikembangkan sistem yang lebih kecil dari mikrokompuer yang disebut dengan sistem  handheld  dalam bentuk  personal digital assistants  (PDA).  Pada beberapa sistem terdapat telepon selular.  Sistem ini mempunyai memory yang terbatas, prosessor dengan kecepatan rendah dan display screen yang kecil. 

5.      SITEM REAL TIME
Dalam teknologi informasi, istilah waktu nyata adalah kondisi pengoperasian dari suatu sistem perangkat keras dan perangkat lunak yang dibatasi oleh rentang waktu dan memiliki tenggat waktu (deadline) yang jelas, relatif terhadap waktu suatu peristiwa atau operasi terjadi. Sebuah sistem non-waktu nyata sebagai lawannya tidak memiliki tenggat waktu. Contoh dari sebuah sistem waktu nyata adalah sistem pengendali pesawat terbang. Batasan waktu pada sistem pengendali pesawat terbang harus tegas karena penyimpangan terhadap batasan waktu dapat berakibat fatal, yaitu kecelakaan.

JENIS-JENIS SISTEM INFORMASI:
1.      SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Adalah satu pengimplementasian dari sistem informasi yang digunakan pada sasaran kalangan manajerial.
            Fungsi Sistem Informasi Manajemen:
a.       Melakukan monitoring terhadap kinerja anak buah
b.      Memberikan penilaian langsung terhadap kinerja anak buah
c.       Menerima laporan dan juga hasil pekerjaan dari anak buah atau bawahan
d.      Melaksanakan fungsi pengawasan dan juga pemindahtugasan bagi bawahan dan juga anak buah
e.       Memberikan masukan kepada dewan direksi terhadap promosi jabatan dari anak buah
f.        Melihat kelebihan dan juga kekurangan yang dimiliki oleh anak buahMelakukan komunikasi antar level manajerial untuk kepentingna organisasi dan juga perusahaan.

2.      SISTEM INFROMASI EKSEKUTIF
Sistem informasi eksekutif berarti merupakan sebuah sistem informasi yang dikembangkan dan juga diimplementasikan untuk memberikan kemudahan arus informasi suatu organisasi atau perusahaan kepada mereka yang berada pada level eksekutif.
            Fungsi Sistem Infromasi Eksekutif:
a.       Kegiatan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan atau organisasi dalam jangka waktu tertentu
b.      Kinerja dari level manajerial, atau jabatan yang langsung berada di bawah level eksekutif
c.       Kondisi kestabilan keuangan dan juga finansial dari sebuah perusahaan ataupun organisasi
d.      Lingkungan kerja dan juga budaya organisasi yang timbul pada perusahaan atau organisasi tersebut

3.       SISTEM INFORMASI AKUNTASI
Adalah salah satu pengimplementasian dari sistem informasi manajemen, yang berhubungan dengan kegiatan akuntansi dan juga penghitungan dari sebuah perusahaan ataupun organisasi.
Fungsi Sistem Informasi Akutansi:
a.       Membantu mempercepat proses penghitungan akuntansi keuangan
b.      Menentukan keuntungan dan juga kerugian dari sebuah perusahaan
c.       Memperjelas informasi penting mengenai jumlah dana yang harus dihtung dengan melakukan proses akuntansi
d.      Merapihkan catatan keuangan dari sebuah perusahaan atau organisasi
e.       Membantu mempercepat proses pengambilan keputusan perusahaan, terutama pada level akuntansi keuangan perusahaan

4.      Sistem Informasi Manufaktur
Sistem informasi manufaktur kebanyakan digunakan dan juga diimplementasikan pada bagian produksi suatu perusahaan, yang bergerak di bidang produksi.
Fungsi sistem Manufaktur:
a.       Mencatat total produksi yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan
b.      Mencatat barang-barang produksi yang tidak lolos dari quality control
c.       Mencatat hasil produk yang berhasil dilempar ke pasaran
d.      Mencatat produk yang berhasil diekspor ke mancanegara
e.       Mencatat biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk setiap sesi produksi
f.        Melakukan analisa terhadap kebutuhan bahan pokok dan sumber daya manusia di dalam proses produksi

5.      Sistem Informasi Sumber Daya Manusia
Sesuai dengan namanya, biasanya sistem informasi ini berhubungan dengan bagian personalia, atau HR dari suatu perusahaan dan juga organisasi. Sistem informasi SDM ini memiliki banyak sekali data dan juga informasi, mengenai:
a.       Data diri dari karyawan yang dimilki oleh perusahaan
b.      Total gaji pokok, tunjangan, bonus dan informasi keuangan lainnya yang dimilki oleh karyawan
c.       Jabatan dan masa kerja dari karyawan
Manfaat dari sistem informasi sumber daya manusia:
a.       Membantu bagian personalia dalam melakukan analisis mengenai gaji pokok dari seorang karyawan
b.      Memberikan informasi mengenai kinerja yang dimiliki oleh setiap karyawan
c.       Membantu bagian personalia dalam menganalisis bonus, potongan gaji, serta pemutasian dan kenaikan jabatan dari karyawan
d.      Melakukan update data dari seluruh karyawan yang dimilkik oleh perusahaan tersebut
e.       Sebagai acuan data dalam melakukan proses rekrutmen karyawan baru.

REFERENCE: